<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nglangut &#187; 2001 &#187; June</title>
	<atom:link href="http://phil.yusenda.or.id/2001/06/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://phil.yusenda.or.id</link>
	<description>Segala yang melintas dalam angan yang meronta</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 09:47:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
		<item>
		<title>Cerita dari Timor 003</title>
		<link>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-003/</link>
		<comments>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-003/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jun 2001 00:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Philip</dc:creator>
				<category><![CDATA[humanitarian worker]]></category>
		<category><![CDATA[jrs]]></category>
		<category><![CDATA[timor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phil.yusenda.or.id/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya. Pertanyaan Astrid soal &#8220;benarkah hanya ada dua puskesmas di Timor Lorosae?&#8221; mengusikku, karena ternyata kampanye tentang buruknya keadaan di TL tidak hanya termakan oleh para pengungsi di kamp-kamp, tetapi juga oleh para mahasiswa dan kaum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tulisan ini kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.</em></p>
<p>Pertanyaan <a href="http://thelittlegabrielle.blogs.friendster.com/my_blog/">Astrid</a> soal &#8220;benarkah hanya ada dua puskesmas di Timor Lorosae?&#8221; mengusikku, karena ternyata kampanye tentang buruknya keadaan di TL tidak hanya termakan oleh para pengungsi di kamp-kamp, tetapi juga oleh para mahasiswa dan kaum intelektual yang mestinya lebih bisa menyaring informasi yang masuk.<br />
<span id="more-24"></span><br />
<a href="http://phil.yusenda.or.id/uploads/2008/04/suai-hospital-small.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-26" title="Suai Hospital" src="http://phil.yusenda.or.id/uploads/2008/04/suai-hospital-small.jpg" alt="Rumah Sakit di Suai, ruang kebidanan" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Mulai edisi ini aku akan coba bercerita apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan dalam perjalananku ke TL akhir Mei lalu.</p>
<p>Bagaimana kita akan mulai membayangkan kondisi TL sekarang?</p>
<p>Kurasa akan lebih mudah kalau kita mulai dari tahun 1999 sebagai tahun nol: Segala jenis infrastruktur (pertanian, perdagangan, kesehatan,dll) hancur dalam bumi hangus September 1999. Tentang siapa pelakunya, ada banyak versi: Orang Australia akan bilang bahwa militer Indonesia yang melakukannya secara sistematis, sementara orang Indonesia bilang itu dibakar orang Timor<br />
sendiri.</p>
<p>Padre Tan (Frans Tan Su Ik, SJ) pendamping pertanian organik di Dare (20 menit dari Dili) punya versinya sendiri: &#8220;Waktu para milisi dan tentara yang orang Timor mundur, mereka bakar rumah mereka sendiri. Kemudian ada gelombang kedua pembakaran: mereka yang tadinya mengungsi di gunung, ketika kembali ke desanya mendapati rumahnya sudah terbakar. Mereka nggak terima, rumah tetangganya ikut dibakar supaya rata, sama-sama terbakar&#8230;.&#8221;</p>
<p><a href="http://phil.yusenda.or.id/uploads/2008/04/suai-sd01-small.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-25" title="SDK Suai" src="http://phil.yusenda.or.id/uploads/2008/04/suai-sd01-small.jpg" alt="SD Katolik di Suai, bagian selatan Timor Lorosae" width="300" height="193" /></a></p>
<p>Padre Tan jelas tidak mengada-ada, karena dia termasuk di antara sedikit pastor yang tidak ikut melarikan diri ketika terjadi bumi hangus 1999. &#8220;Waktu itu ada sekitar 2000 orang yang mengungsi di tempat saya. Mereka bergerombol di kebun kopi, dan di mana saja di kompleks ini. Sewaktu saya perhatikan, saya bingung karena kebun kopinya kok jadi agak terang dan panas. Eh ternyata daun-daun kopinya habis dipakai untuk tisu. Wah, bau sekali di sini. Untuk selama dua minggu mereka bersembunyi di sini tidak turun hujan.&#8221;</p>
<p>Rasa humornya yang agak nyentrik tetap bertahan walaupun rekannya, Padre Albrecht (Karl Albrecht, SJ) tewas tertembak ketika melindungi pengungsi. &#8220;Waktu dengar itu saya bertanya, meninggalnya di jalan atau di rumah? Ternyata di rumah, jadi untung waktu itu saya lebih banyak di jalan karena mencarikan bahan makanan bagi para pengungsi.&#8221;</p>
<p>Bagi Padre Tan, keadaan di TL sekarang sudah lebih baik dibanding masa krisis 1999. Tetapi arah perubahan itu yang kurang disukainya. &#8220;Masak para pejabat gereja itu mau menjadikan bahasa Porto sebagai bahasa resmi gereja? Porto itu yang hebat apanya sih? Teologi mereka nggak berkembang, pastor yang dikirim ke sini juga orang-orang bermasalah. Coba deh, kamu cari di perpustakaan Vatikan sana, berapa biji buku teologi yang bahasa asalnya Porto. Nggak ada itu! Belum lagi rupiah mau diganti dollar, mana mau pedagang di pasar Maubessi sana terima dollar. Kalau mau menghapus pengaruh Indonesia bukan begitu caranya!&#8221;</p>
<p>Pandangan Padre Tan jelas bukan satu-satunya sudut pandang yang ada di TL. Ada banyak cara melihat persoalan TL. Karenanya dalam edisi berikutnya akan kutampilkan bagaimana persoalan TL dilihat oleh orang-orang yang kutemui.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-003/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

