Cerita dari Timor 002

Tulisan ini kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.

Bon Tarde!
Di’ak ka lae?
Ha’u di’ak tebetebes
.

Pagi ini aku ikut misa di kapela kecil di sebelah kamp pengungsi Tuapukan, Kupang. Ada banyak hal yang menarik dalam misa ini:

  • Bahasa: kalian kalau misa pasti hanya satu bahasa saja yang dipakai, kan? Nah misa yang kuikuti tadi ada tiga bahasa: Bahasa Tetun dipakai untuk semua ordinarium dan Bapa Kami (baik yang dinyanyikan maupun tidak), Bahasa Inggris untuk beberapa lagu-lagunya, dan sisanya dalam bahasa Indonesia.
  • Umatnya: Hampir seluruh umat yang hadir adalah pengungsi. Yang penduduk lokal hanya 20-25 orang (termasuk 6 orang tim JRS Kupang) dari 250 yang hadir. Soalnya memang penduduk Kupang mayoritas beragama Kristen Protestan. Semua yang hadir di sini berbaju bagus, dan maksudku benar-benar beda dibanding kesehariannya. Kalau melihat mereka sedang di kamp, biasanya baju
    mereka sobek-sobek dan lusuh. Tapi di sini, begitu beda. Kawan satu timku mengatakan mereka (para pengungsi) memang amat menaruh perhatian soal gereja dan para klerus karena memang demikian adat mereka sebagai orang Timor Timur. Kalau bertemu dengan romo/suster mereka pasti langsung cium tangan (aku sendiri sudah dikira pater dua kali dan dicium tangan!). Sehingga, secara khusus mereka menyisihkan baju terbaik mereka untuk baju hari Minggu, dan benar-benar hanya dipakai hari Minggu.
  • Bangunannya: Bangunan kapela ini sederhana, dindingnya batako, ukurannya sekitar 8×10 meter, dan masih setengah jadi. Kalau di Surabaya, umat yang di luar gereja ditempatkan dibawah terob terpal. Di sini, umat yang berdiri di luar ditempatkan dibawah atap daun lontar dengan tiang-tiang kayu.
  • Sentuhan khusus: di depan altar, ada beberapa patung Maria ukuran sedang. Ternyata patung-patung itu milik umat yang dimintakan berkat dalam misa itu. Pemberkatan ini mereka mintakan hampir tiap minggu. Patung Maria dan Yesus yang besar dibungkus dengan lembaran kain tais (istilah mereka kain laki-laki, karena biasa dipakai cowok)
  • Tata cara: Dalam komuni, mudah membedakan orang Timor asli dengan yang lama tinggal di Jawa: orang Timor menerima komuni langsung dimulut dan orang Jawa menerima komuni dengan tangan. Pada saat komuni, biasanya di Jawa cukup dengan satu -dua lagu pengiring umat sudah habis. Di sini, entah karena berdesakan atau memang umatnya banyak, selain lagu umat juga diajak berdoa (biasanya 3x Bapa kami dan 3x Salam Maria) untuk suatu ujub tertentu.

Itu saja untuk Cerita dari Timor edisi ke 002.

Minggu depan aku akan ke Timor Lorosae (luar negeri ….), tunggu saja ceritaku tentang perjalanan itu.

Tags: ,

CommentLuv Enabled