Wisata Pasar Tradisional

pak choy, buncis, kacang panjang, sawi hijau…

Pagi ini, seperti biasa aku bertugas belanja sayur ke pasar Ubud. FYI, yang kalian para turis lihat di siang hari adalah versi bersihnya, dimana yang dijual adalah barang kerajinan. Tepat di lapak yang sama, pagi hari (sebelum jam 09:00), pasar Ubud adalah pasar tradisional biasa, yang penuh sayur mayur, ikan, ayam, dan riuh rendahnya transaksi jual beli. Berbagai sayuran dijual disana, bahkan sayur mayur yang kurang umum di pasar tradisional lain macam bit, basil, dan selada merah, karena pasar Ubud juga melayani komunitas expatriate yang cukup besar.

ikan tuna, pukis, lemper, telur ayam kampung…

Pagi ini ada pemandangan yang agak lain. Seorang tour guide sedang menerangkan ke sekelompok turis Prancis tentang penggunaan daun salam dalam masakan Bali, sambil memetik dan meremas daun salam dari jualan salah satu pedagang. Di pojok sana, serombongan turis Taiwan terkagum-kagum melihat kecepatan seorang pedagang memotong ayam (atau mereka mengagumi tingkat kekotoran wilayah sekitarnya?). Di sudut sana, dua anak Jepang lari dari rombongannya dan sibuk mencolek-colek buah nangka.

nangka, pisang, jambu, kecambah, bawang bombay…

Pemandangan ini membuatku bertanya: apa menariknya pasar tradisional? Pasarnya becek, kotor, sumpek, dan riuh. Bagaimana bisa sampai ada biro wisata yang punya ide membuat paket macam ini?

paduan suara ayam, teriakan menawarkan dagangan, bel truk sampah…

Apa pendapatmu?

  1. PerompakJr’s avatar

    mungkin di tempat asal turis itu ga ada pasar tradisionalnya mas :P

    Reply

It sounds like SK2 has recently been updated on this blog. But not fully configured. You MUST visit Spam Karma's admin page at least once before letting it filter your comments (chaos may ensue otherwise).
CommentLuv Enabled