<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nglangut &#187; 42</title>
	<atom:link href="http://phil.yusenda.or.id/category/42/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://phil.yusenda.or.id</link>
	<description>Segala yang melintas dalam angan yang meronta</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 09:47:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
		<item>
		<title>On Reputation and Honor</title>
		<link>http://phil.yusenda.or.id/2012/42/on-reputation-and-honor/</link>
		<comments>http://phil.yusenda.or.id/2012/42/on-reputation-and-honor/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 09:29:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Philip</dc:creator>
				<category><![CDATA[42]]></category>
		<category><![CDATA[wisecrack]]></category>
		<category><![CDATA[baen books]]></category>
		<category><![CDATA[miles vorkosigan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phil.yusenda.or.id/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Reputation is what other people know about you. Honor is what you know about yourself. The friction tends to arise when the two are not the same. There is no more hollow feeling than to stand with your honor shattered at your feet while soaring public reputation wraps you in rewards. That&#8217;s soul-destroying. The other [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Reputation is what other people know about you. Honor is what you know about yourself. The friction tends to arise when the two are not the same. There is no more hollow feeling than to stand with your honor shattered at your feet while soaring public reputation wraps you in rewards. That&#8217;s soul-destroying. The other way around is merely very, very irritating.&#8221;<br />
&#8220;Can I offer you some consoling reflections?<br />
First, this too shall pass. Despite the undoubted charms of sex, murder, conspiracy, and more sex, people will eventually grow bored with the tale, and some other poor fellow will make some other ghastly public mistake, and their attention will go haring off after the new game.&#8221;<br />
Secondly, given this accusation, no charge against you that&#8217;s less exciting will ruffle anyone&#8217;s sensibilities in the future. The near future, anyway.<br />
Third, there is no thought control—or I&#8217;d certainly have put it to use before this. Trying to shape, or respond to, what every idiot on the street believes—on the basis of little logic and less information—would only serve to drive you mad.&#8221;</p>
<p>Miles stared away for a minute into the middle distance. &#8220;So what you&#8217;re telling me boils down to the same thing Galeni said. I have to stand here and eat this, and smile.&#8221;</p>
<p>&#8220;No,&#8221; said his father, &#8220;you don&#8217;t have to smile. But if you&#8217;re really asking for advice from my accumulated experience, I&#8217;m saying, Guard your honor. Let your reputation fall where it will. And outlive the bastards.&#8221;</p>
<p>Aral and Miles Vorkosigan &#8211; <a href="http://www.baenebooks.com/p-702-miles-in-love.aspx"><em>Miles In Love &#8211; A Civil Campaign </em> &#8211; Lois McMaster Bujold</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phil.yusenda.or.id/2012/42/on-reputation-and-honor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A new place. Again.</title>
		<link>http://phil.yusenda.or.id/2007/42/a-new-place-again/</link>
		<comments>http://phil.yusenda.or.id/2007/42/a-new-place-again/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2007 12:18:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Philip</dc:creator>
				<category><![CDATA[42]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phil.yusenda.or.id/2007/42/a-new-place-again/</guid>
		<description><![CDATA[How do you realize that you are in a strange land? For me, it is trough my ears. In Jogja, my place was 50 meters from a double-track railroad and right under the descent line of a nearby airport. So every night my sleep always punctuated by the the sound of the passing train, and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> How do you realize that you are in a strange land?<br />
For me, it is trough my ears.<br />
In Jogja, my place was 50 meters from a double-track railroad and right under the descent line of a nearby airport. So every night my sleep always punctuated by the the sound of the passing train, and my morning call is the first flight ascending from the airport. But here in Ubud, my sleep was uninterrupted (and its too cold to do anything beside huddling under your blanket). My morning call was the sound of (almost) a thousand avians, ranging from the hooting of the doves, the chirping of small bird from a nearby rice field, to the proud sound of a rooster.</p>
<p>I am in a new place. Again.</p>
<p>My curiosity already sparked: What will the universe have in store for me here?<br />
We&#8217;ll see, soon enough.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phil.yusenda.or.id/2007/42/a-new-place-again/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah 1000 hari Sabtu</title>
		<link>http://phil.yusenda.or.id/2004/42/kisah-1000-hari-sabtu/</link>
		<comments>http://phil.yusenda.or.id/2004/42/kisah-1000-hari-sabtu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2004 02:26:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Philip</dc:creator>
				<category><![CDATA[42]]></category>
		<category><![CDATA[family]]></category>
		<category><![CDATA[happiness]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phil.yusenda.or.id/2004/sophia/kisah-1000-hari-sabtu/</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini sampai padaku setelah diforward beberapa puluh kali. Entah siapa penulis pertamanya, tapi yang pasti cerita ini sangat menyentuh. Makes me kind of wonder : apa sebenarnya yang kita cari di dunia ini&#8230;. Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini sampai padaku setelah di<em>forward</em> beberapa puluh kali. Entah siapa penulis pertamanya, tapi yang pasti cerita ini sangat menyentuh. <em>Makes me kind of wonder</em> : apa sebenarnya yang kita cari di dunia ini&#8230;.</p>
<hr />Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.</p>
<p>Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.</p>
<p>Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil &#8220;Tom&#8221;. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.</p>
<p>&#8220;Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat&#8221;.</p>
<p>Ia melanjutkan : &#8220;Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku&#8221;.</p>
<p>Lalu mulailah ia menerangkan teori &#8220;seribu kelereng&#8221; nya. &#8220;Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya.</p>
<p>Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini&#8221;, sambungnya, &#8220;dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati&#8221;.</p>
<p>&#8220;Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya&#8221;. &#8220;Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu&#8221;.</p>
<p>&#8220;Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku berpikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi&#8221;.</p>
<p>&#8220;Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!&#8221;</p>
<p>Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya.</p>
<p>Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.</p>
<p>&#8220;Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan&#8221;.</p>
<p>&#8220;Lho, ada apa ini&#8230;?&#8221;, tanyanya tersenyum.</p>
<p>&#8220;Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial&#8221;, jawabku, &#8220;Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.&#8221;</p>
<p><em>HAVE A GREAT WEEKEND AND MAY ALL SATURDAYS BE SPECIAL AND MAY YOU HAVE MANY HAPPY YEARS AFTER YOU LOSE ALL YOUR MARBLES.</em> <img src='http://phil.yusenda.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phil.yusenda.or.id/2004/42/kisah-1000-hari-sabtu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Miskin</title>
		<link>http://phil.yusenda.or.id/2004/42/orang-miskin/</link>
		<comments>http://phil.yusenda.or.id/2004/42/orang-miskin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2004 02:38:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Philip</dc:creator>
				<category><![CDATA[42]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phil.yusenda.or.id/2004/42/orang-miskin/</guid>
		<description><![CDATA[Aku gak tahu siapa Tangkisan Letug ini, tapi puisi dan pandangannya tersebar di berbagai milis tentang Indonesia. Dan pandangannya kadang membuatku &#8230; merinding karena kebenaran yang dikandungnya&#8230;.. ORANG MISKIN Oleh Tangkisan LetugOrang miskin diagungkan seperti pasar tempat kekayaan dikeruk dipelut oleh kebutuhan yang diciptakan diperebutkan karena banyaknya oleh pemilik barang jualan sekedar melahirkan keuntungan bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku gak tahu siapa Tangkisan Letug ini, tapi puisi dan pandangannya tersebar di berbagai milis tentang Indonesia. Dan pandangannya kadang membuatku &#8230; merinding karena kebenaran yang dikandungnya&#8230;..</p>
<hr />
ORANG MISKIN<br />
Oleh Tangkisan LetugOrang miskin<br />
diagungkan seperti pasar<br />
tempat kekayaan dikeruk<br />
dipelut oleh kebutuhan yang diciptakan<br />
diperebutkan karena banyaknya<br />
oleh pemilik barang jualan<br />
sekedar melahirkan keuntungan<br />
bagi siapa kuat mempermainkan</p>
<p>Orang miskin<br />
adalah ciptaan<br />
mesin masyarakat yang tanpa peduli<br />
keadilan bagi sesamanya</p>
<p>Orang miskin<br />
bagai kebun binatang<br />
di negeri kuasa uang diagungkan<br />
diberi makan sekedar menguntungkan<br />
mendatangkan turis dan belaskasihan.</p>
<p>Jangan tanya siapa penentu kebijakan,<br />
penguasa dan pemilik uang itu keharusan<br />
dan orang miskin cukup nyoblos<br />
setelah itu dilupakan,<br />
kembali jadi obyek pasaran<br />
tempat upah dikeruk kembali<br />
lewat pajak saban hari.</p>
<p>Orang miskin<br />
dihitung saat pemilu datang<br />
sekedar menambah suara demi kekuasaan<br />
kalau perlu diperalat<br />
diprovokasi membuat kerusuhan<br />
sekaligus dijadikan korban<br />
setelah itu<br />
banyak orang berkoar-koar<br />
membela kemanusiaan<br />
demi menaikkan nama menjadi pembela mereka<br />
disiarkan ke televisi dan koran<br />
dikenal seantero jagat<br />
mendapat banjir dollar<br />
namun<br />
orang miskin tetap melarat<br />
tidak penting disaat dollar tiba<br />
terlupakan di saat kuasa enak di tangan<br />
dan ada saatnya<br />
digusur-gusur demi kebersihan kota<br />
atau diserobot tanah-tanah mereka<br />
diciptakan konflik<br />
biar mereka jadi pengungsi<br />
hidup dibarak-barak darurat<br />
lalu rumah dan ladang mereka<br />
lebih gampang diduduki,<br />
kalau perlu dijadikan ladang golf<br />
demi pembangunan ekonomi<br />
yang tidak pernah menghitung<br />
mereka sebagai korban.</p>
<p>Orang miskin<br />
dibuat perlu diciptakan<br />
menjadi mayoritas<br />
agar segelintir orang<br />
bisa bertahan berkuasa berharta-kaya,<br />
lebih gampang mengadu-domba<br />
cukup dengan mengiming-imingi<br />
sebungkus nasi tiap pagi.</p>
<p>Orang miskin<br />
tak pernah menjadi penting<br />
sejak negeri ini merdeka tahun empat lima<br />
selalu saja tetap fungsinya<br />
jadi objek politik saja.</p>
<p>24 Mei 2004</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phil.yusenda.or.id/2004/42/orang-miskin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bekerja dengan keyakinan</title>
		<link>http://phil.yusenda.or.id/2004/humanitarian-worker/bekerja-dengan-keyakinan/</link>
		<comments>http://phil.yusenda.or.id/2004/humanitarian-worker/bekerja-dengan-keyakinan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2004 02:10:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Philip</dc:creator>
				<category><![CDATA[42]]></category>
		<category><![CDATA[humanitarian worker]]></category>
		<category><![CDATA[family]]></category>
		<category><![CDATA[umr]]></category>
		<category><![CDATA[volunteer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phil.yusenda.or.id/2004/humanitarian-worker/bekerja-dengan-keyakinan/</guid>
		<description><![CDATA[Temanku Adeline lagi-lagi mengirim email yang &#8220;nye-kak&#8221;. Renungannya tentang pola hidup aktivis benar-benar menohok dan nyata&#8230;. bekerja dengan keyakinan Ada orang bekerja untuk sesuap nasi, ada yang untuk segenggam berlian, ada yang untuk idealisme (&#8216;panggilan&#8217; entah kemanusiaan entah religius), ada yang untuk aktualisasi diri&#8230; Yang jelas kebanyakan dari kita bekerja untuk dan dengan alasan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Temanku Adeline lagi-lagi mengirim email yang &#8220;nye-kak&#8221;. Renungannya tentang pola hidup aktivis benar-benar menohok dan nyata&#8230;.</p>
<hr />
<h3>bekerja dengan keyakinan</h3>
<p>Ada orang bekerja untuk sesuap nasi, ada yang untuk segenggam berlian, ada yang untuk idealisme (&#8216;panggilan&#8217; entah kemanusiaan entah religius), ada yang untuk aktualisasi diri&#8230; Yang jelas kebanyakan dari kita bekerja untuk dan dengan alasan yang merupakan kombinasi dari berbagai faktor. Semua sungguh sah-sah saja.</p>
<p>Siang tadi beberapa teman ngobrol2 tentang kerja, profesionalisme, idealisme dan realita. perdebatannya, kalau kita bekerja profesional untuk tujuan sosial (baca: untuk <em>ngo</em>) apa oke saja kalo tidak dihargai dan tidak dibayar (diberi <em>thank you</em> pun tidak!)? atas nama sosial dan &#8216;panggilan&#8217;, apakah oke sebuah lsm besar tidak menggaji layak (jauh dibawah umr) staf atau volunteernya? Apalagi banyak lsm yang teriak2 soal HAM, hak buruh, hak sosial ekonomi di luar tapi terhadap staf atau orang2 yang membantu mati2an malah memberi janji bukan bukti (contoh nyata banyak! ini sdh pendapat umum di publik non lsm)</p>
<p>Ada teman yang coba membela image lsm dengan menjatuhkan perusahaan (<em>corporate</em>). seraya mengkerutkan kening, ia mencela sebuah konsultan public relation yang, &#8216;mau-maunya kerja membuat publikasi untuk konglomerat dan pejabat?! itu sih betul2 cari duit doang!&#8217; ketika perdebatan memanas, saya hanya bisa jujur dengan apa yang saya pikir dan rasakan, &#8216;lu boleh makan itu idealisme, tapi kalo kepepet gak bisa bayar uang sekolah anak, gue gak akan malu jadi standguide lagi, pake rok mini senyum sana-sini dapat 200-300ribu satu shift! masa bodo lsm, sama kaya VOC: kerja paksa tanpa bayar!&#8217;<br />
<a id="more"></a></p>
<p>Kami pulang dengan tertawa2 (maklum, baru kumpul2 teman lama). tapi ada penasaran tersisa buat saya. Tak adakah pekerjaan yang mendamaikan keduanya: idealisme dan kebutuhan kesejahteraan keluarga? Masa kita harus memaksakan aturan tidak boleh berkeluarga supaya bisa melayani sesama 24jam tanpa bayaran?</p>
<p>Pikir punya pikir, apa pun pilihan kita, yang penting sesuai hati (atau sesuai tujuan kita diciptakan ha..ha..ha..). yang juga penting, kita yakin akan apa yg kita kerjakan. kalau gaji tinggi tapi kita gak yakin &#8216;produk jualan&#8217; kita&#8230;? Atau sebaliknya kita percaya kecap kita nomor satu tapi disuruh kerja rodi, kerja seberat direktur tapi gaji dibawah office boy? Beratlah&#8230;</p>
<p>Tiba2 saya ingat <strong>Eddie Rickenbacker</strong>, mantan penerbang perang dunia I, pendiri dan CEO Eastern Airlines (Amerika). selain karena 135 kali luput dari maut, ia terkenal karena prinsip-prinsip manajemen bisnis dan personal. Dalam paper berjudul &#8220;my constitution&#8221;, Rickenbacker (yang gak pernah dilatih dan diberi doktrin asas dan dasar) menulis,</p>
<p>&#8220;I<em> will always keep in mind that I am in the greatest business in the world, as well as working for the greatest company in the world, and I can serve humanity more completely in my line of endeavor than in any other</em>.&#8221;</p>
<p>nah&#8230;. apakah kita sudah seyakin itu dengan pekerjaan atau pilihan kita&#8230;..?</p>
<p>(adeline)</p>
<p>&#8220;T<em>here is no eternal evil in human nature. There is nothing that cannot be changed by conscious, purposive social action, provided with information, and supported by legitimacy. If people are informed, active, and communicate throughout the world; if business assumes its social responsibilities; if the media become the messengers, rather than the message; if political actors react against cynicism, and restore belief in democracy; if culture is reconstructed from experience; if humankind feels the solidarity of the species throughout the globe; if we assert intergenerational solidarity by living in harmony with nature; if we depart for the exploration of our inner self, having made peace among ourselves. If all this is made possible by our informed, conscious, shared decision, while there is still time, maybe then, we may, at last. Be able to live and let live, love and be loved.</em>&#8221;</p>
<p>["Tak ada kejahatan abadi dalam sifat manusia. Tak ada yang tak dapat diubah dengan kesadaran, niat baik, tindakan sosial, dilengkapi dengan informasi dan didukung legitimasi. Jika rakyat dapat akses informasi, aktif berkomunikasi ke seluruh dunia; jika bisnis memegang tanggung jawab sosialnya; jika media menjadi pembawa pesan bukan menjadi pesan itu sendiri; jika aktor politik bereaksi terhadap sinisme dan mengembalikan kepercayaan terhadap demokrasi; jika kebudayaan direkonstruksi dari pengalaman; jika umat manusia merasakan solidaritas spesiesnya di seluruh planet; jika kita melaksanakan solidaritas antar-generasi dengan hidup harmonis dengan alam; jika kita berangkat mengeksplorasi kedalaman diri, berdamai dengan diri kita. Jika semua ini dimungkinkan oleh akses informasi, hati nurani, keputusan bersama, mumpung masih ada waktu, maka mungkin kita masih bisa hidup dan membiarkan hidup, mencintai dan dicintai."]</p>
<p><strong>Manuel Castells, End of Millennium, p.390</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phil.yusenda.or.id/2004/humanitarian-worker/bekerja-dengan-keyakinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Just for the brave and strong</title>
		<link>http://phil.yusenda.or.id/2004/humanitarian-worker/just-for-the-brave-and-strong/</link>
		<comments>http://phil.yusenda.or.id/2004/humanitarian-worker/just-for-the-brave-and-strong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2004 02:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Philip</dc:creator>
				<category><![CDATA[42]]></category>
		<category><![CDATA[humanitarian worker]]></category>
		<category><![CDATA[ambon]]></category>
		<category><![CDATA[forgiveness]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phil.yusenda.or.id/2004/humanitarian-worker/just-for-the-brave-and-strong/</guid>
		<description><![CDATA[Aku tertidur sambil terus memikirkan teman temanku di JRS Ambon. Kekhawatiran akan mereka terus menggelegak di dalam hati. Tidurkupun menjadi begitu gelisah, terus terganggu berbagai mimpi aneh. Ketika terbangun dalam keadaan basah oleh keringat dingin, ada sebuah kalimat yang masih terus terngiang dari sisa mimpiku. &#8220;Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami &#8211; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku tertidur sambil terus memikirkan teman temanku di <a href="http://www.jrs.or.id">JRS Ambon</a>. Kekhawatiran akan mereka terus menggelegak di dalam hati. Tidurkupun menjadi begitu gelisah, terus terganggu berbagai mimpi aneh. Ketika terbangun dalam keadaan basah oleh keringat dingin, ada sebuah kalimat yang masih terus terngiang dari sisa mimpiku.</p>
<p>&#8220;<em>Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami &#8211; Kita hanya layak mohon ampun bila kita telah mengampuni sesama kita!</em>&#8221;</p>
<p>Kata-kata yang diucapkan dengan penuh keyakinan itu begitu menggores kesadaranku.</p>
<p>Aku mencoba membayangkan kembali: tangan-tangan yang mengangkat parang dalam kemurkaan, peluru sniper yang diluncurkan oleh tangan-tangan yang sudah melupakan perasaan, dan mata merah menyala yang sudah melupakan kata pengampunan.</p>
<p>Semuanya masih sama.</p>
<p>Semenjak di jalanan Surabaya tahun 1997-1998, mata tangan dan parang yang sama masih membayangiku. Di semua tempat yang kukunjungi: Dili, Liquica, Banda Aceh, Lhokseumawe, Jakarta. Di tempat pelaku maupun korban: di kamp pengungsian maupun di markas laskar dan milisi. Semuanya sama, rantai itu belum terputus. Korban yang terlukai menyimpan dendam yang begitu membara, sehingga begitu ada kesempatan langsung ganti mencabik-cabik korban lainnya, sekedar menunjukkan bahwa dia sudah bukan korban lagi. Lingkaran ini berputar terus dan terus, setiap korban siap menjadi penindas berikutnya. Hanya yang benar-benar kuat akan berkata,&#8221;Aku memaafkanmu!&#8221; Sialnya, setiap korban selalu merasa lemah karena pernah dilukai, dan tak pernah cukup kuat untuk mangampuni. Sementara yang menjadi pelaku begitu takutnya untuk tidak diampuni, karena itulah peraturan yang diberlakukannya sendiri. Setiap gerak, setiap langkahnya, setiap nafasnya dihidupi dalam ketakutan sehingga ia tak pernah menjadi cukup kuat untuk menerima bahwa perbuatannya masih bisa diampuni. Maka ia pun terus menabrak, merangsek maju dalam kebutaan dalam ketakutan bahwa ia akan jadi korban selanjutnya.</p>
<p>Kapan lingkaran kekerasan ini akan berakhir?</p>
<p>Kapan kita akan menjadi cukup kuat dan berani untuk mampu mengampuni?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phil.yusenda.or.id/2004/humanitarian-worker/just-for-the-brave-and-strong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahun 2003 baru saja datang</title>
		<link>http://phil.yusenda.or.id/2003/42/tahun-2003-baru-saja-datang/</link>
		<comments>http://phil.yusenda.or.id/2003/42/tahun-2003-baru-saja-datang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jan 2003 17:42:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Philip</dc:creator>
				<category><![CDATA[42]]></category>
		<category><![CDATA[makna hidup]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phil.yusenda.or.id/2003/42/tahun-2003-baru-saja-datang/</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2003 baru saja datang (walau kadang aku berpikir ini cuma satu dari sekian imaji manusia). Indonesia masih seberantakan biasanya (sudah lima tahun, jadi agak biasa). Aku nggak tahu apa bisa lebih baik (ini benar-benar bikin capek). Well, let&#8217;s hope for the best and prepare for the worst&#8230;. Hari Natal lalu temanku Ade mengirim sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2003 baru saja datang (walau kadang aku berpikir ini cuma satu dari sekian imaji manusia). Indonesia masih seberantakan biasanya (sudah lima tahun, jadi agak biasa). Aku nggak tahu apa bisa lebih baik (ini benar-benar bikin capek). Well, let&#8217;s hope for the best and prepare for the worst&#8230;.<br />
<a id="more"></a></p>
<p>Hari Natal lalu temanku Ade mengirim sebuah pesan yang menarik :</p>
<hr />Dear all&#8230;..</p>
<p>tahun ini kucari-cari kembali makna Natal. yang lama sudah kian usang. memperingati  kelahiranNya sekadar sebagai hari besar yang libur yang ramai yang meriah sampai  gereja-gereja yang biasa sepi jadi membludak&#8230; ah&#8230; rasanya kok kurang bermakna. misa di gereja-gereja terasa sebagai sekadar tradisi dari institusi yang kian usang, tua renta, kaku dan makin ditinggalkan. institusi yang terdiam waktu manusia kecil tertindas tapi ribut koar-koar cari dana untuk mempermewah gedungnya&#8230;.</p>
<p>Apalagi ketika gema natal terdengar paling riuh rendah justru dari toko-toko yang menawarkan aneka paket bingkisan. atau film-film bercerita tentang tokoh gendut berbaju merah tukang bagi hadiah (jangan-jangan dia cuma salesman toko mainan he..he..) yang lama-lama malah menggusur tokoh Bayi yang harusnya kita peringati&#8230;.</p>
<p>apakah hanya sekian&#8230;? itu sajakah makna Dia datang sebagai bayi di kandang kumuh&#8230;? aku nyaris memutuskan untuk tidak ikut misa natal karena percuma menghadiri upacara mewah-meriah yang kurang kuhayati maknanya&#8230;</p>
<p>tapi dini hari 24 desember, sesuatu memperbarui makna. di saat kita tertidur nyenyak, mungkin lelah setelah persiapan hari besar, 700an aparat berseragam keliling Jakarta Utara. dalam enam jam mereka menyita 55 becak. setidaknya 55 orang dini hari itu kehilangan penghidupan, entah bagaimana lagi cara keluarga mereka dapat makan tanggal 24 desember 2002 dan seterusnya. keluarga-keluarga yang &#8216;agak sial&#8217; lain masih ribuan di jakarta. apalagi hadiah lebaran-natal-tahun baru dari gubernur jenderal adalah pembersihan. ah&#8230;gila!</p>
<p>akhirnya, malam natal kuputuskan untuk datang ke gedung gereja. aku baru ingat, Sang Bayi datang bukan untuk bagi hadiah dari mal, tapi untuk turun ke jalan. untuk memperjuangkan pembebasan bagi tukang becak, bagi kaki lima, bagi petani, bagi pengungsi, bagi para korban.</p>
<p>aku baru ingat, keselamatan yang dibawaNya bukan sekadar janji surga untuk sesuatu di alam sana, tapi ajakan untuk berjuang bersama bagi mereka yang miskin telanjang terlantar.</p>
<p>rupanya, kandang itu ada juga maknanya. bukan kandang yang sudah dihias mewah dengan lampu-lampu gemerlap, tapi kandang jorok bau kambing tempat Sang Bayi yang sungguh lahir dan menyejarah.</p>
<p>teriring lagu natal merdu dari koor gereja yang telah latihan berbulan-bulan, tumbuh seonggok harap, &#8220;semoga nyanyi para malaikat bisa menghibur para tukang becak, para miskin dan tertindas. semoga harapan yang lahir kembali malam ini tak kunjung padam bagi kita semua, bahwa pembebasan juga nyata dan menyejarah di dunia kini dan di sini&#8230;.&#8221;</p>
<p>SELAMAT NATAL&#8230;.!<br />
ade</p>
<hr />Well, nothing else could be added isn&#8217;t it? <img src='http://phil.yusenda.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phil.yusenda.or.id/2003/42/tahun-2003-baru-saja-datang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

