humanitarian worker

tentang voluntarism dan aksi bersama..

Temanku Adeline lagi-lagi mengirim email yang “nye-kak”. Renungannya tentang pola hidup aktivis benar-benar menohok dan nyata….


bekerja dengan keyakinan

Ada orang bekerja untuk sesuap nasi, ada yang untuk segenggam berlian, ada yang untuk idealisme (’panggilan’ entah kemanusiaan entah religius), ada yang untuk aktualisasi diri… Yang jelas kebanyakan dari kita bekerja untuk dan dengan alasan yang merupakan kombinasi dari berbagai faktor. Semua sungguh sah-sah saja.

Siang tadi beberapa teman ngobrol2 tentang kerja, profesionalisme, idealisme dan realita. perdebatannya, kalau kita bekerja profesional untuk tujuan sosial (baca: untuk ngo) apa oke saja kalo tidak dihargai dan tidak dibayar (diberi thank you pun tidak!)? atas nama sosial dan ‘panggilan’, apakah oke sebuah lsm besar tidak menggaji layak (jauh dibawah umr) staf atau volunteernya? Apalagi banyak lsm yang teriak2 soal HAM, hak buruh, hak sosial ekonomi di luar tapi terhadap staf atau orang2 yang membantu mati2an malah memberi janji bukan bukti (contoh nyata banyak! ini sdh pendapat umum di publik non lsm)

Ada teman yang coba membela image lsm dengan menjatuhkan perusahaan (corporate). seraya mengkerutkan kening, ia mencela sebuah konsultan public relation yang, ‘mau-maunya kerja membuat publikasi untuk konglomerat dan pejabat?! itu sih betul2 cari duit doang!’ ketika perdebatan memanas, saya hanya bisa jujur dengan apa yang saya pikir dan rasakan, ‘lu boleh makan itu idealisme, tapi kalo kepepet gak bisa bayar uang sekolah anak, gue gak akan malu jadi standguide lagi, pake rok mini senyum sana-sini dapat 200-300ribu satu shift! masa bodo lsm, sama kaya VOC: kerja paksa tanpa bayar!’

Kami pulang dengan tertawa2 (maklum, baru kumpul2 teman lama). tapi ada penasaran tersisa buat saya. Tak adakah pekerjaan yang mendamaikan keduanya: idealisme dan kebutuhan kesejahteraan keluarga? Masa kita harus memaksakan aturan tidak boleh berkeluarga supaya bisa melayani sesama 24jam tanpa bayaran?

Pikir punya pikir, apa pun pilihan kita, yang penting sesuai hati (atau sesuai tujuan kita diciptakan ha..ha..ha..). yang juga penting, kita yakin akan apa yg kita kerjakan. kalau gaji tinggi tapi kita gak yakin ‘produk jualan’ kita…? Atau sebaliknya kita percaya kecap kita nomor satu tapi disuruh kerja rodi, kerja seberat direktur tapi gaji dibawah office boy? Beratlah…

Tiba2 saya ingat Eddie Rickenbacker, mantan penerbang perang dunia I, pendiri dan CEO Eastern Airlines (Amerika). selain karena 135 kali luput dari maut, ia terkenal karena prinsip-prinsip manajemen bisnis dan personal. Dalam paper berjudul “my constitution”, Rickenbacker (yang gak pernah dilatih dan diberi doktrin asas dan dasar) menulis,

“I will always keep in mind that I am in the greatest business in the world, as well as working for the greatest company in the world, and I can serve humanity more completely in my line of endeavor than in any other.”

nah…. apakah kita sudah seyakin itu dengan pekerjaan atau pilihan kita…..?

(adeline)

“There is no eternal evil in human nature. There is nothing that cannot be changed by conscious, purposive social action, provided with information, and supported by legitimacy. If people are informed, active, and communicate throughout the world; if business assumes its social responsibilities; if the media become the messengers, rather than the message; if political actors react against cynicism, and restore belief in democracy; if culture is reconstructed from experience; if humankind feels the solidarity of the species throughout the globe; if we assert intergenerational solidarity by living in harmony with nature; if we depart for the exploration of our inner self, having made peace among ourselves. If all this is made possible by our informed, conscious, shared decision, while there is still time, maybe then, we may, at last. Be able to live and let live, love and be loved.

["Tak ada kejahatan abadi dalam sifat manusia. Tak ada yang tak dapat diubah dengan kesadaran, niat baik, tindakan sosial, dilengkapi dengan informasi dan didukung legitimasi. Jika rakyat dapat akses informasi, aktif berkomunikasi ke seluruh dunia; jika bisnis memegang tanggung jawab sosialnya; jika media menjadi pembawa pesan bukan menjadi pesan itu sendiri; jika aktor politik bereaksi terhadap sinisme dan mengembalikan kepercayaan terhadap demokrasi; jika kebudayaan direkonstruksi dari pengalaman; jika umat manusia merasakan solidaritas spesiesnya di seluruh planet; jika kita melaksanakan solidaritas antar-generasi dengan hidup harmonis dengan alam; jika kita berangkat mengeksplorasi kedalaman diri, berdamai dengan diri kita. Jika semua ini dimungkinkan oleh akses informasi, hati nurani, keputusan bersama, mumpung masih ada waktu, maka mungkin kita masih bisa hidup dan membiarkan hidup, mencintai dan dicintai."]

Manuel Castells, End of Millennium, p.390

Tags: , ,

Aku tertidur sambil terus memikirkan teman temanku di JRS Ambon. Kekhawatiran akan mereka terus menggelegak di dalam hati. Tidurkupun menjadi begitu gelisah, terus terganggu berbagai mimpi aneh. Ketika terbangun dalam keadaan basah oleh keringat dingin, ada sebuah kalimat yang masih terus terngiang dari sisa mimpiku.

Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami – Kita hanya layak mohon ampun bila kita telah mengampuni sesama kita!

Kata-kata yang diucapkan dengan penuh keyakinan itu begitu menggores kesadaranku.

Aku mencoba membayangkan kembali: tangan-tangan yang mengangkat parang dalam kemurkaan, peluru sniper yang diluncurkan oleh tangan-tangan yang sudah melupakan perasaan, dan mata merah menyala yang sudah melupakan kata pengampunan.

Semuanya masih sama.

Semenjak di jalanan Surabaya tahun 1997-1998, mata tangan dan parang yang sama masih membayangiku. Di semua tempat yang kukunjungi: Dili, Liquica, Banda Aceh, Lhokseumawe, Jakarta. Di tempat pelaku maupun korban: di kamp pengungsian maupun di markas laskar dan milisi. Semuanya sama, rantai itu belum terputus. Korban yang terlukai menyimpan dendam yang begitu membara, sehingga begitu ada kesempatan langsung ganti mencabik-cabik korban lainnya, sekedar menunjukkan bahwa dia sudah bukan korban lagi. Lingkaran ini berputar terus dan terus, setiap korban siap menjadi penindas berikutnya. Hanya yang benar-benar kuat akan berkata,”Aku memaafkanmu!” Sialnya, setiap korban selalu merasa lemah karena pernah dilukai, dan tak pernah cukup kuat untuk mangampuni. Sementara yang menjadi pelaku begitu takutnya untuk tidak diampuni, karena itulah peraturan yang diberlakukannya sendiri. Setiap gerak, setiap langkahnya, setiap nafasnya dihidupi dalam ketakutan sehingga ia tak pernah menjadi cukup kuat untuk menerima bahwa perbuatannya masih bisa diampuni. Maka ia pun terus menabrak, merangsek maju dalam kebutaan dalam ketakutan bahwa ia akan jadi korban selanjutnya.

Kapan lingkaran kekerasan ini akan berakhir?

Kapan kita akan menjadi cukup kuat dan berani untuk mampu mengampuni?

Tags: ,

Tulisan ini aslinya kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.

Saat ini aku sedang berada di Mae Hong Son, Thailand untuk menjalani pelatihan JRS. Kota ini kecil hanya dua jam naik mobil dari perbatasan Thailand-Burma. Setengah jam dari tempatku menginap, ada sebuah kamp pengungsi yang menampung para pengungsi Karenni, sebuah suku yang berjuang melawan pemerintah Burma untuk mendirikan negaranya sendiri.

Aku jadi teringat, tahun 1998 ketika aku jadi penunggu markas KMK bersama Lino (Evangelino Rodrigues Soares, FKU 1996) aku sering bercanda dengannya, “Nanti kau bisa nyombong pada anak-anakmu kalau bapaknya dulu kuliah di luar negeri.” Aku juga sempat mengatakan, aku nggak akan mau berkunjung ke rumahnya di Maubara, Liquisa, Timor Lorosae kalau nggak pakai paspor. Aku tak pernah menduga kalau itu benar terjadi di tahun 2001 ini. Di pasporku sekarang sudah ada cap “UNTAET Border Control”. Memang belum “East Timor Border Control” karena belum proklamasi kemerdekaan, tapi setidaknya sudah bukan bagian dari Indonesia. Ketika aku berjumpa dengan para pengungsi Karenni ini, aku jadi membayangkan, seperti apa nasib mereka kelak? Akankah ada sebuah negara Karenni merdeka?

Aku tak bisa membayangkan, dan aku juga tak mau membatasi kemungkinan, karena daya imajinasi Tuhan memang liar.Aku hanya akan menyaksikan, mencatat, dan melakukanapa yang terbaik dalam konteks masa kita. Bukankah itu tugas kita tiap manusia?

Tags: , ,

Tulisan ini kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.

Pertanyaan Astrid soal “benarkah hanya ada dua puskesmas di Timor Lorosae?” mengusikku, karena ternyata kampanye tentang buruknya keadaan di TL tidak hanya termakan oleh para pengungsi di kamp-kamp, tetapi juga oleh para mahasiswa dan kaum intelektual yang mestinya lebih bisa menyaring informasi yang masuk.
Read the rest of this entry »

Tags: ,

Tulisan ini kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.

Bon Tarde!
Di’ak ka lae?
Ha’u di’ak tebetebes
.

Pagi ini aku ikut misa di kapela kecil di sebelah kamp pengungsi Tuapukan, Kupang. Ada banyak hal yang menarik dalam misa ini:

  • Bahasa: kalian kalau misa pasti hanya satu bahasa saja yang dipakai, kan? Nah misa yang kuikuti tadi ada tiga bahasa: Bahasa Tetun dipakai untuk semua ordinarium dan Bapa Kami (baik yang dinyanyikan maupun tidak), Bahasa Inggris untuk beberapa lagu-lagunya, dan sisanya dalam bahasa Indonesia.
  • Umatnya: Hampir seluruh umat yang hadir adalah pengungsi. Yang penduduk lokal hanya 20-25 orang (termasuk 6 orang tim JRS Kupang) dari 250 yang hadir. Soalnya memang penduduk Kupang mayoritas beragama Kristen Protestan. Semua yang hadir di sini berbaju bagus, dan maksudku benar-benar beda dibanding kesehariannya. Kalau melihat mereka sedang di kamp, biasanya baju
    mereka sobek-sobek dan lusuh. Tapi di sini, begitu beda. Kawan satu timku mengatakan mereka (para pengungsi) memang amat menaruh perhatian soal gereja dan para klerus karena memang demikian adat mereka sebagai orang Timor Timur. Kalau bertemu dengan romo/suster mereka pasti langsung cium tangan (aku sendiri sudah dikira pater dua kali dan dicium tangan!). Sehingga, secara khusus mereka menyisihkan baju terbaik mereka untuk baju hari Minggu, dan benar-benar hanya dipakai hari Minggu.
  • Bangunannya: Bangunan kapela ini sederhana, dindingnya batako, ukurannya sekitar 8×10 meter, dan masih setengah jadi. Kalau di Surabaya, umat yang di luar gereja ditempatkan dibawah terob terpal. Di sini, umat yang berdiri di luar ditempatkan dibawah atap daun lontar dengan tiang-tiang kayu.
  • Sentuhan khusus: di depan altar, ada beberapa patung Maria ukuran sedang. Ternyata patung-patung itu milik umat yang dimintakan berkat dalam misa itu. Pemberkatan ini mereka mintakan hampir tiap minggu. Patung Maria dan Yesus yang besar dibungkus dengan lembaran kain tais (istilah mereka kain laki-laki, karena biasa dipakai cowok)
  • Tata cara: Dalam komuni, mudah membedakan orang Timor asli dengan yang lama tinggal di Jawa: orang Timor menerima komuni langsung dimulut dan orang Jawa menerima komuni dengan tangan. Pada saat komuni, biasanya di Jawa cukup dengan satu -dua lagu pengiring umat sudah habis. Di sini, entah karena berdesakan atau memang umatnya banyak, selain lagu umat juga diajak berdoa (biasanya 3x Bapa kami dan 3x Salam Maria) untuk suatu ujub tertentu.

Itu saja untuk Cerita dari Timor edisi ke 002.

Minggu depan aku akan ke Timor Lorosae (luar negeri ….), tunggu saja ceritaku tentang perjalanan itu.

Tags: ,

« Older entries