“Every gun that is made, every warship launched, every rocket fired, signifies in the final sense a theft from those who hunger and are not fed, those who are cold and are not clothed.”
President Dwight D. Eisenhower
April 16, 1953
Cerita ini sampai padaku setelah diforward beberapa puluh kali. Entah siapa penulis pertamanya, tapi yang pasti cerita ini sangat menyentuh. Makes me kind of wonder : apa sebenarnya yang kita cari di dunia ini….
Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.
Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.
Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.
“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.
Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.
Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya. “Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya.
Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting”.
“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”, sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.
“Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya”. “Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”.
“Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku berpikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi”.
“Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”
Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya.
Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
“Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan”.
“Lho, ada apa ini…?”, tanyanya tersenyum.
“Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial”, jawabku, “Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.”
HAVE A GREAT WEEKEND AND MAY ALL SATURDAYS BE SPECIAL AND MAY YOU HAVE MANY HAPPY YEARS AFTER YOU LOSE ALL YOUR MARBLES.
Aku gak tahu siapa Tangkisan Letug ini, tapi puisi dan pandangannya tersebar di berbagai milis tentang Indonesia. Dan pandangannya kadang membuatku … merinding karena kebenaran yang dikandungnya…..
ORANG MISKIN
Oleh Tangkisan LetugOrang miskin
diagungkan seperti pasar
tempat kekayaan dikeruk
dipelut oleh kebutuhan yang diciptakan
diperebutkan karena banyaknya
oleh pemilik barang jualan
sekedar melahirkan keuntungan
bagi siapa kuat mempermainkan
Orang miskin
adalah ciptaan
mesin masyarakat yang tanpa peduli
keadilan bagi sesamanya
Orang miskin
bagai kebun binatang
di negeri kuasa uang diagungkan
diberi makan sekedar menguntungkan
mendatangkan turis dan belaskasihan.
Jangan tanya siapa penentu kebijakan,
penguasa dan pemilik uang itu keharusan
dan orang miskin cukup nyoblos
setelah itu dilupakan,
kembali jadi obyek pasaran
tempat upah dikeruk kembali
lewat pajak saban hari.
Orang miskin
dihitung saat pemilu datang
sekedar menambah suara demi kekuasaan
kalau perlu diperalat
diprovokasi membuat kerusuhan
sekaligus dijadikan korban
setelah itu
banyak orang berkoar-koar
membela kemanusiaan
demi menaikkan nama menjadi pembela mereka
disiarkan ke televisi dan koran
dikenal seantero jagat
mendapat banjir dollar
namun
orang miskin tetap melarat
tidak penting disaat dollar tiba
terlupakan di saat kuasa enak di tangan
dan ada saatnya
digusur-gusur demi kebersihan kota
atau diserobot tanah-tanah mereka
diciptakan konflik
biar mereka jadi pengungsi
hidup dibarak-barak darurat
lalu rumah dan ladang mereka
lebih gampang diduduki,
kalau perlu dijadikan ladang golf
demi pembangunan ekonomi
yang tidak pernah menghitung
mereka sebagai korban.
Orang miskin
dibuat perlu diciptakan
menjadi mayoritas
agar segelintir orang
bisa bertahan berkuasa berharta-kaya,
lebih gampang mengadu-domba
cukup dengan mengiming-imingi
sebungkus nasi tiap pagi.
Orang miskin
tak pernah menjadi penting
sejak negeri ini merdeka tahun empat lima
selalu saja tetap fungsinya
jadi objek politik saja.
24 Mei 2004
Temanku Adeline lagi-lagi mengirim email yang “nye-kak”. Renungannya tentang pola hidup aktivis benar-benar menohok dan nyata….
bekerja dengan keyakinan
Ada orang bekerja untuk sesuap nasi, ada yang untuk segenggam berlian, ada yang untuk idealisme (’panggilan’ entah kemanusiaan entah religius), ada yang untuk aktualisasi diri… Yang jelas kebanyakan dari kita bekerja untuk dan dengan alasan yang merupakan kombinasi dari berbagai faktor. Semua sungguh sah-sah saja.
Siang tadi beberapa teman ngobrol2 tentang kerja, profesionalisme, idealisme dan realita. perdebatannya, kalau kita bekerja profesional untuk tujuan sosial (baca: untuk ngo) apa oke saja kalo tidak dihargai dan tidak dibayar (diberi thank you pun tidak!)? atas nama sosial dan ‘panggilan’, apakah oke sebuah lsm besar tidak menggaji layak (jauh dibawah umr) staf atau volunteernya? Apalagi banyak lsm yang teriak2 soal HAM, hak buruh, hak sosial ekonomi di luar tapi terhadap staf atau orang2 yang membantu mati2an malah memberi janji bukan bukti (contoh nyata banyak! ini sdh pendapat umum di publik non lsm)
Ada teman yang coba membela image lsm dengan menjatuhkan perusahaan (corporate). seraya mengkerutkan kening, ia mencela sebuah konsultan public relation yang, ‘mau-maunya kerja membuat publikasi untuk konglomerat dan pejabat?! itu sih betul2 cari duit doang!’ ketika perdebatan memanas, saya hanya bisa jujur dengan apa yang saya pikir dan rasakan, ‘lu boleh makan itu idealisme, tapi kalo kepepet gak bisa bayar uang sekolah anak, gue gak akan malu jadi standguide lagi, pake rok mini senyum sana-sini dapat 200-300ribu satu shift! masa bodo lsm, sama kaya VOC: kerja paksa tanpa bayar!’
Kami pulang dengan tertawa2 (maklum, baru kumpul2 teman lama). tapi ada penasaran tersisa buat saya. Tak adakah pekerjaan yang mendamaikan keduanya: idealisme dan kebutuhan kesejahteraan keluarga? Masa kita harus memaksakan aturan tidak boleh berkeluarga supaya bisa melayani sesama 24jam tanpa bayaran?
Pikir punya pikir, apa pun pilihan kita, yang penting sesuai hati (atau sesuai tujuan kita diciptakan ha..ha..ha..). yang juga penting, kita yakin akan apa yg kita kerjakan. kalau gaji tinggi tapi kita gak yakin ‘produk jualan’ kita…? Atau sebaliknya kita percaya kecap kita nomor satu tapi disuruh kerja rodi, kerja seberat direktur tapi gaji dibawah office boy? Beratlah…
Tiba2 saya ingat Eddie Rickenbacker, mantan penerbang perang dunia I, pendiri dan CEO Eastern Airlines (Amerika). selain karena 135 kali luput dari maut, ia terkenal karena prinsip-prinsip manajemen bisnis dan personal. Dalam paper berjudul “my constitution”, Rickenbacker (yang gak pernah dilatih dan diberi doktrin asas dan dasar) menulis,
“I will always keep in mind that I am in the greatest business in the world, as well as working for the greatest company in the world, and I can serve humanity more completely in my line of endeavor than in any other.”
nah…. apakah kita sudah seyakin itu dengan pekerjaan atau pilihan kita…..?
(adeline)
“There is no eternal evil in human nature. There is nothing that cannot be changed by conscious, purposive social action, provided with information, and supported by legitimacy. If people are informed, active, and communicate throughout the world; if business assumes its social responsibilities; if the media become the messengers, rather than the message; if political actors react against cynicism, and restore belief in democracy; if culture is reconstructed from experience; if humankind feels the solidarity of the species throughout the globe; if we assert intergenerational solidarity by living in harmony with nature; if we depart for the exploration of our inner self, having made peace among ourselves. If all this is made possible by our informed, conscious, shared decision, while there is still time, maybe then, we may, at last. Be able to live and let live, love and be loved.”
["Tak ada kejahatan abadi dalam sifat manusia. Tak ada yang tak dapat diubah dengan kesadaran, niat baik, tindakan sosial, dilengkapi dengan informasi dan didukung legitimasi. Jika rakyat dapat akses informasi, aktif berkomunikasi ke seluruh dunia; jika bisnis memegang tanggung jawab sosialnya; jika media menjadi pembawa pesan bukan menjadi pesan itu sendiri; jika aktor politik bereaksi terhadap sinisme dan mengembalikan kepercayaan terhadap demokrasi; jika kebudayaan direkonstruksi dari pengalaman; jika umat manusia merasakan solidaritas spesiesnya di seluruh planet; jika kita melaksanakan solidaritas antar-generasi dengan hidup harmonis dengan alam; jika kita berangkat mengeksplorasi kedalaman diri, berdamai dengan diri kita. Jika semua ini dimungkinkan oleh akses informasi, hati nurani, keputusan bersama, mumpung masih ada waktu, maka mungkin kita masih bisa hidup dan membiarkan hidup, mencintai dan dicintai."]
Manuel Castells, End of Millennium, p.390
Suara air yang bergemericik pelan menjadi latar belakang percakapan kami malam ini. Sambil menggerakkan tangannya dengan penuh semangat, Bimo bercerita tentang kegiatannya setelah mengundurkan diri dari Projo Keuskupan Surabaya. Bersama sebuah LSM di Yogya, dia masuk ke Maluku dan Papua, mencoba mendorong masyarakat menuju kedamaian.
Dengan penuh kesal dia memaki berbagai pihak yang membuat Ambon yang sudah damai terperosok kembali dalam kerusuhan. “Semuanya orang luar yang mengambil untung, karena kalau damai mereka tidak bisa mendapat apa-apa.” Belum sempat berbicara banyak, anaknya sudah menangis lagi, hingga dia langsung berlari masuk. Sambil menenangkan anaknya, dia berkata, “Kenalkan, yang ini namanya Titus Hadiwikarta. Yang sama Reni ibunya itu namanya Timotius Dibyokaryono. Lahirnya Maret, tanggal 16.”
Sambil meringis dia menambahkan, “Kalau begini kan kelihatan Jawa Timurnya kan?”
Aku cuma balas meringis.


Recent Comments