Suara air yang bergemericik pelan menjadi latar belakang percakapan kami malam ini. Sambil menggerakkan tangannya dengan penuh semangat, Bimo bercerita tentang kegiatannya setelah mengundurkan diri dari Projo Keuskupan Surabaya. Bersama sebuah LSM di Yogya, dia masuk ke Maluku dan Papua, mencoba mendorong masyarakat menuju kedamaian.

Dengan penuh kesal dia memaki berbagai pihak yang membuat Ambon yang sudah damai terperosok kembali dalam kerusuhan. “Semuanya orang luar yang mengambil untung, karena kalau damai mereka tidak bisa mendapat apa-apa.” Belum sempat berbicara banyak, anaknya sudah menangis lagi, hingga dia langsung berlari masuk. Sambil menenangkan anaknya, dia berkata, “Kenalkan, yang ini namanya Titus Hadiwikarta. Yang sama Reni ibunya itu namanya Timotius Dibyokaryono. Lahirnya Maret, tanggal 16.”

Sambil meringis dia menambahkan, “Kalau begini kan kelihatan Jawa Timurnya kan?”
Aku cuma balas meringis.

Tags: ,

Aku tertidur sambil terus memikirkan teman temanku di JRS Ambon. Kekhawatiran akan mereka terus menggelegak di dalam hati. Tidurkupun menjadi begitu gelisah, terus terganggu berbagai mimpi aneh. Ketika terbangun dalam keadaan basah oleh keringat dingin, ada sebuah kalimat yang masih terus terngiang dari sisa mimpiku.

Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami – Kita hanya layak mohon ampun bila kita telah mengampuni sesama kita!

Kata-kata yang diucapkan dengan penuh keyakinan itu begitu menggores kesadaranku.

Aku mencoba membayangkan kembali: tangan-tangan yang mengangkat parang dalam kemurkaan, peluru sniper yang diluncurkan oleh tangan-tangan yang sudah melupakan perasaan, dan mata merah menyala yang sudah melupakan kata pengampunan.

Semuanya masih sama.

Semenjak di jalanan Surabaya tahun 1997-1998, mata tangan dan parang yang sama masih membayangiku. Di semua tempat yang kukunjungi: Dili, Liquica, Banda Aceh, Lhokseumawe, Jakarta. Di tempat pelaku maupun korban: di kamp pengungsian maupun di markas laskar dan milisi. Semuanya sama, rantai itu belum terputus. Korban yang terlukai menyimpan dendam yang begitu membara, sehingga begitu ada kesempatan langsung ganti mencabik-cabik korban lainnya, sekedar menunjukkan bahwa dia sudah bukan korban lagi. Lingkaran ini berputar terus dan terus, setiap korban siap menjadi penindas berikutnya. Hanya yang benar-benar kuat akan berkata,”Aku memaafkanmu!” Sialnya, setiap korban selalu merasa lemah karena pernah dilukai, dan tak pernah cukup kuat untuk mangampuni. Sementara yang menjadi pelaku begitu takutnya untuk tidak diampuni, karena itulah peraturan yang diberlakukannya sendiri. Setiap gerak, setiap langkahnya, setiap nafasnya dihidupi dalam ketakutan sehingga ia tak pernah menjadi cukup kuat untuk menerima bahwa perbuatannya masih bisa diampuni. Maka ia pun terus menabrak, merangsek maju dalam kebutaan dalam ketakutan bahwa ia akan jadi korban selanjutnya.

Kapan lingkaran kekerasan ini akan berakhir?

Kapan kita akan menjadi cukup kuat dan berani untuk mampu mengampuni?

Tags: ,

Tahun 2003 baru saja datang (walau kadang aku berpikir ini cuma satu dari sekian imaji manusia). Indonesia masih seberantakan biasanya (sudah lima tahun, jadi agak biasa). Aku nggak tahu apa bisa lebih baik (ini benar-benar bikin capek). Well, let’s hope for the best and prepare for the worst….

Hari Natal lalu temanku Ade mengirim sebuah pesan yang menarik :


Dear all…..

tahun ini kucari-cari kembali makna Natal. yang lama sudah kian usang. memperingati kelahiranNya sekadar sebagai hari besar yang libur yang ramai yang meriah sampai gereja-gereja yang biasa sepi jadi membludak… ah… rasanya kok kurang bermakna. misa di gereja-gereja terasa sebagai sekadar tradisi dari institusi yang kian usang, tua renta, kaku dan makin ditinggalkan. institusi yang terdiam waktu manusia kecil tertindas tapi ribut koar-koar cari dana untuk mempermewah gedungnya….

Apalagi ketika gema natal terdengar paling riuh rendah justru dari toko-toko yang menawarkan aneka paket bingkisan. atau film-film bercerita tentang tokoh gendut berbaju merah tukang bagi hadiah (jangan-jangan dia cuma salesman toko mainan he..he..) yang lama-lama malah menggusur tokoh Bayi yang harusnya kita peringati….

apakah hanya sekian…? itu sajakah makna Dia datang sebagai bayi di kandang kumuh…? aku nyaris memutuskan untuk tidak ikut misa natal karena percuma menghadiri upacara mewah-meriah yang kurang kuhayati maknanya…

tapi dini hari 24 desember, sesuatu memperbarui makna. di saat kita tertidur nyenyak, mungkin lelah setelah persiapan hari besar, 700an aparat berseragam keliling Jakarta Utara. dalam enam jam mereka menyita 55 becak. setidaknya 55 orang dini hari itu kehilangan penghidupan, entah bagaimana lagi cara keluarga mereka dapat makan tanggal 24 desember 2002 dan seterusnya. keluarga-keluarga yang ‘agak sial’ lain masih ribuan di jakarta. apalagi hadiah lebaran-natal-tahun baru dari gubernur jenderal adalah pembersihan. ah…gila!

akhirnya, malam natal kuputuskan untuk datang ke gedung gereja. aku baru ingat, Sang Bayi datang bukan untuk bagi hadiah dari mal, tapi untuk turun ke jalan. untuk memperjuangkan pembebasan bagi tukang becak, bagi kaki lima, bagi petani, bagi pengungsi, bagi para korban.

aku baru ingat, keselamatan yang dibawaNya bukan sekadar janji surga untuk sesuatu di alam sana, tapi ajakan untuk berjuang bersama bagi mereka yang miskin telanjang terlantar.

rupanya, kandang itu ada juga maknanya. bukan kandang yang sudah dihias mewah dengan lampu-lampu gemerlap, tapi kandang jorok bau kambing tempat Sang Bayi yang sungguh lahir dan menyejarah.

teriring lagu natal merdu dari koor gereja yang telah latihan berbulan-bulan, tumbuh seonggok harap, “semoga nyanyi para malaikat bisa menghibur para tukang becak, para miskin dan tertindas. semoga harapan yang lahir kembali malam ini tak kunjung padam bagi kita semua, bahwa pembebasan juga nyata dan menyejarah di dunia kini dan di sini….”

SELAMAT NATAL….!
ade


Well, nothing else could be added isn’t it? :)

Tags: ,

Tulisan ini aslinya kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.

Saat ini aku sedang berada di Mae Hong Son, Thailand untuk menjalani pelatihan JRS. Kota ini kecil hanya dua jam naik mobil dari perbatasan Thailand-Burma. Setengah jam dari tempatku menginap, ada sebuah kamp pengungsi yang menampung para pengungsi Karenni, sebuah suku yang berjuang melawan pemerintah Burma untuk mendirikan negaranya sendiri.

Aku jadi teringat, tahun 1998 ketika aku jadi penunggu markas KMK bersama Lino (Evangelino Rodrigues Soares, FKU 1996) aku sering bercanda dengannya, “Nanti kau bisa nyombong pada anak-anakmu kalau bapaknya dulu kuliah di luar negeri.” Aku juga sempat mengatakan, aku nggak akan mau berkunjung ke rumahnya di Maubara, Liquisa, Timor Lorosae kalau nggak pakai paspor. Aku tak pernah menduga kalau itu benar terjadi di tahun 2001 ini. Di pasporku sekarang sudah ada cap “UNTAET Border Control”. Memang belum “East Timor Border Control” karena belum proklamasi kemerdekaan, tapi setidaknya sudah bukan bagian dari Indonesia. Ketika aku berjumpa dengan para pengungsi Karenni ini, aku jadi membayangkan, seperti apa nasib mereka kelak? Akankah ada sebuah negara Karenni merdeka?

Aku tak bisa membayangkan, dan aku juga tak mau membatasi kemungkinan, karena daya imajinasi Tuhan memang liar.Aku hanya akan menyaksikan, mencatat, dan melakukanapa yang terbaik dalam konteks masa kita. Bukankah itu tugas kita tiap manusia?

Tags: , ,

Tulisan ini kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.

Pertanyaan Astrid soal “benarkah hanya ada dua puskesmas di Timor Lorosae?” mengusikku, karena ternyata kampanye tentang buruknya keadaan di TL tidak hanya termakan oleh para pengungsi di kamp-kamp, tetapi juga oleh para mahasiswa dan kaum intelektual yang mestinya lebih bisa menyaring informasi yang masuk.
Read the rest of this entry »

Tags: ,

« Older entries § Newer entries »