Tulisan ini aslinya kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.
Saat ini aku sedang berada di Mae Hong Son, Thailand untuk menjalani pelatihan JRS. Kota ini kecil hanya dua jam naik mobil dari perbatasan Thailand-Burma. Setengah jam dari tempatku menginap, ada sebuah kamp pengungsi yang menampung para pengungsi Karenni, sebuah suku yang berjuang melawan pemerintah Burma untuk mendirikan negaranya sendiri.
Aku jadi teringat, tahun 1998 ketika aku jadi penunggu markas KMK bersama Lino (Evangelino Rodrigues Soares, FKU 1996) aku sering bercanda dengannya, “Nanti kau bisa nyombong pada anak-anakmu kalau bapaknya dulu kuliah di luar negeri.” Aku juga sempat mengatakan, aku nggak akan mau berkunjung ke rumahnya di Maubara, Liquisa, Timor Lorosae kalau nggak pakai paspor. Aku tak pernah menduga kalau itu benar terjadi di tahun 2001 ini. Di pasporku sekarang sudah ada cap “UNTAET Border Control”. Memang belum “East Timor Border Control” karena belum proklamasi kemerdekaan, tapi setidaknya sudah bukan bagian dari Indonesia. Ketika aku berjumpa dengan para pengungsi Karenni ini, aku jadi membayangkan, seperti apa nasib mereka kelak? Akankah ada sebuah negara Karenni merdeka?
Aku tak bisa membayangkan, dan aku juga tak mau membatasi kemungkinan, karena daya imajinasi Tuhan memang liar.Aku hanya akan menyaksikan, mencatat, dan melakukanapa yang terbaik dalam konteks masa kita. Bukankah itu tugas kita tiap manusia?


Recent Comments