<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nglangut &#187; timor</title>
	<atom:link href="http://phil.yusenda.or.id/tag/timor/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://phil.yusenda.or.id</link>
	<description>Segala yang melintas dalam angan yang meronta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Mar 2010 08:05:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cerita dari Timor 004</title>
		<link>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-004/</link>
		<comments>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-004/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Aug 2001 08:32:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Philip</dc:creator>
				<category><![CDATA[humanitarian worker]]></category>
		<category><![CDATA[kmk]]></category>
		<category><![CDATA[jrs]]></category>
		<category><![CDATA[thailand]]></category>
		<category><![CDATA[timor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phil.yusenda.or.id/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini aslinya kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.
Saat ini aku sedang berada di Mae Hong Son, Thailand untuk menjalani pelatihan JRS. Kota ini kecil hanya dua jam naik mobil dari perbatasan Thailand-Burma. Setengah jam dari tempatku menginap, ada sebuah kamp pengungsi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tulisan ini aslinya kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.</em></p>
<p>Saat ini aku sedang berada di Mae Hong Son, Thailand untuk menjalani pelatihan <a href="http://www.jrs.net">JRS</a>. Kota ini kecil hanya dua jam naik mobil dari perbatasan Thailand-Burma. Setengah jam dari tempatku menginap, ada sebuah kamp pengungsi yang menampung para pengungsi Karenni, sebuah suku yang berjuang melawan pemerintah Burma untuk mendirikan negaranya sendiri. </p>
<p>Aku jadi teringat, tahun 1998 ketika aku jadi penunggu markas <a href="http://www.kmkalgonz.org">KMK</a> bersama Lino (Evangelino Rodrigues Soares, FKU 1996) aku sering bercanda dengannya, &#8220;Nanti kau bisa nyombong pada anak-anakmu kalau bapaknya dulu kuliah di luar negeri.&#8221; Aku juga sempat mengatakan, aku nggak akan mau berkunjung ke rumahnya di Maubara, Liquisa, Timor Lorosae kalau nggak pakai paspor. Aku tak pernah menduga kalau itu benar terjadi di tahun 2001 ini. Di pasporku sekarang sudah ada cap &#8220;UNTAET Border Control&#8221;. Memang belum &#8220;East Timor Border Control&#8221; karena belum proklamasi kemerdekaan, tapi setidaknya sudah bukan bagian dari Indonesia. Ketika aku berjumpa dengan para pengungsi Karenni ini, aku jadi membayangkan, seperti apa nasib mereka kelak? Akankah ada sebuah negara Karenni merdeka?</p>
<p>Aku tak bisa membayangkan, dan aku juga tak mau membatasi kemungkinan, karena daya imajinasi Tuhan memang  liar.Aku hanya akan menyaksikan, mencatat, dan melakukanapa yang terbaik dalam konteks masa kita. Bukankah itu tugas kita tiap manusia?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-004/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita dari Timor 003</title>
		<link>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-003/</link>
		<comments>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-003/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jun 2001 00:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Philip</dc:creator>
				<category><![CDATA[humanitarian worker]]></category>
		<category><![CDATA[jrs]]></category>
		<category><![CDATA[timor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phil.yusenda.or.id/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.
Pertanyaan Astrid soal &#8220;benarkah hanya ada dua puskesmas di Timor Lorosae?&#8221; mengusikku, karena ternyata kampanye tentang buruknya keadaan di TL tidak hanya termakan oleh para pengungsi di kamp-kamp, tetapi juga oleh para mahasiswa dan kaum intelektual [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tulisan ini kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.</em></p>
<p>Pertanyaan <a href="http://thelittlegabrielle.blogs.friendster.com/my_blog/">Astrid</a> soal &#8220;benarkah hanya ada dua puskesmas di Timor Lorosae?&#8221; mengusikku, karena ternyata kampanye tentang buruknya keadaan di TL tidak hanya termakan oleh para pengungsi di kamp-kamp, tetapi juga oleh para mahasiswa dan kaum intelektual yang mestinya lebih bisa menyaring informasi yang masuk.<br />
<span id="more-24"></span><br />
<a href="http://phil.yusenda.or.id/uploads/2008/04/suai-hospital-small.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-26" title="Suai Hospital" src="http://phil.yusenda.or.id/uploads/2008/04/suai-hospital-small.jpg" alt="Rumah Sakit di Suai, ruang kebidanan" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Mulai edisi ini aku akan coba bercerita apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan dalam perjalananku ke TL akhir Mei lalu.</p>
<p>Bagaimana kita akan mulai membayangkan kondisi TL sekarang?</p>
<p>Kurasa akan lebih mudah kalau kita mulai dari tahun 1999 sebagai tahun nol: Segala jenis infrastruktur (pertanian, perdagangan, kesehatan,dll) hancur dalam bumi hangus September 1999. Tentang siapa pelakunya, ada banyak versi: Orang Australia akan bilang bahwa militer Indonesia yang melakukannya secara sistematis, sementara orang Indonesia bilang itu dibakar orang Timor<br />
sendiri.</p>
<p>Padre Tan (Frans Tan Su Ik, SJ) pendamping pertanian organik di Dare (20 menit dari Dili) punya versinya sendiri: &#8220;Waktu para milisi dan tentara yang orang Timor mundur, mereka bakar rumah mereka sendiri. Kemudian ada gelombang kedua pembakaran: mereka yang tadinya mengungsi di gunung, ketika kembali ke desanya mendapati rumahnya sudah terbakar. Mereka nggak terima, rumah tetangganya ikut dibakar supaya rata, sama-sama terbakar&#8230;.&#8221;</p>
<p><a href="http://phil.yusenda.or.id/uploads/2008/04/suai-sd01-small.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-25" title="SDK Suai" src="http://phil.yusenda.or.id/uploads/2008/04/suai-sd01-small.jpg" alt="SD Katolik di Suai, bagian selatan Timor Lorosae" width="300" height="193" /></a></p>
<p>Padre Tan jelas tidak mengada-ada, karena dia termasuk di antara sedikit pastor yang tidak ikut melarikan diri ketika terjadi bumi hangus 1999. &#8220;Waktu itu ada sekitar 2000 orang yang mengungsi di tempat saya. Mereka bergerombol di kebun kopi, dan di mana saja di kompleks ini. Sewaktu saya perhatikan, saya bingung karena kebun kopinya kok jadi agak terang dan panas. Eh ternyata daun-daun kopinya habis dipakai untuk tisu. Wah, bau sekali di sini. Untuk selama dua minggu mereka bersembunyi di sini tidak turun hujan.&#8221;</p>
<p>Rasa humornya yang agak nyentrik tetap bertahan walaupun rekannya, Padre Albrecht (Karl Albrecht, SJ) tewas tertembak ketika melindungi pengungsi. &#8220;Waktu dengar itu saya bertanya, meninggalnya di jalan atau di rumah? Ternyata di rumah, jadi untung waktu itu saya lebih banyak di jalan karena mencarikan bahan makanan bagi para pengungsi.&#8221;</p>
<p>Bagi Padre Tan, keadaan di TL sekarang sudah lebih baik dibanding masa krisis 1999. Tetapi arah perubahan itu yang kurang disukainya. &#8220;Masak para pejabat gereja itu mau menjadikan bahasa Porto sebagai bahasa resmi gereja? Porto itu yang hebat apanya sih? Teologi mereka nggak berkembang, pastor yang dikirim ke sini juga orang-orang bermasalah. Coba deh, kamu cari di perpustakaan Vatikan sana, berapa biji buku teologi yang bahasa asalnya Porto. Nggak ada itu! Belum lagi rupiah mau diganti dollar, mana mau pedagang di pasar Maubessi sana terima dollar. Kalau mau menghapus pengaruh Indonesia bukan begitu caranya!&#8221;</p>
<p>Pandangan Padre Tan jelas bukan satu-satunya sudut pandang yang ada di TL. Ada banyak cara melihat persoalan TL. Karenanya dalam edisi berikutnya akan kutampilkan bagaimana persoalan TL dilihat oleh orang-orang yang kutemui.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-003/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita dari Timor 002</title>
		<link>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-002/</link>
		<comments>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-002/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 May 2001 09:51:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Philip</dc:creator>
				<category><![CDATA[humanitarian worker]]></category>
		<category><![CDATA[jrs]]></category>
		<category><![CDATA[timor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phil.yusenda.or.id/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.
Bon Tarde!
Di&#8217;ak ka lae?
Ha&#8217;u di&#8217;ak tebetebes.
Pagi ini aku ikut misa di kapela kecil di sebelah kamp pengungsi Tuapukan, Kupang. Ada banyak hal yang menarik dalam misa ini:

Bahasa: kalian kalau misa pasti hanya satu bahasa saja yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tulisan ini kuposting via email kepada beberapa kawan. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.</em></p>
<p><em>Bon Tarde!<br />
Di&#8217;ak ka lae?<br />
Ha&#8217;u di&#8217;ak tebetebes</em>.</p>
<p>Pagi ini aku ikut misa di kapela kecil di sebelah kamp pengungsi Tuapukan, Kupang. Ada banyak hal yang menarik dalam misa ini:</p>
<ul>
<li>Bahasa: kalian kalau misa pasti hanya satu bahasa saja yang dipakai, kan? Nah misa yang kuikuti tadi ada tiga bahasa: Bahasa Tetun dipakai untuk semua ordinarium dan Bapa Kami (baik yang dinyanyikan maupun tidak), Bahasa Inggris untuk beberapa lagu-lagunya, dan sisanya dalam bahasa Indonesia.</li>
<li>Umatnya: Hampir seluruh umat yang hadir adalah pengungsi. Yang penduduk lokal hanya 20-25 orang (termasuk 6 orang tim <a href="http://jrs.or.id/wordpress/">JRS</a> Kupang) dari 250 yang hadir. Soalnya memang penduduk Kupang mayoritas beragama Kristen Protestan. Semua yang hadir di sini berbaju bagus, dan maksudku benar-benar beda dibanding kesehariannya. Kalau melihat mereka sedang di kamp, biasanya baju<br />
mereka sobek-sobek dan lusuh. Tapi di sini, begitu beda. Kawan satu timku mengatakan mereka (para pengungsi) memang amat menaruh perhatian soal gereja dan para klerus karena memang demikian adat mereka sebagai orang Timor Timur. Kalau bertemu dengan romo/suster mereka pasti langsung cium tangan (aku sendiri sudah dikira pater dua kali dan dicium tangan!). Sehingga, secara khusus mereka menyisihkan baju terbaik mereka untuk baju hari Minggu, dan benar-benar hanya dipakai hari Minggu.</li>
<li>Bangunannya: Bangunan kapela ini sederhana, dindingnya batako, ukurannya sekitar 8&#215;10 meter, dan masih setengah jadi. Kalau di Surabaya, umat yang di luar gereja ditempatkan dibawah terob terpal. Di sini, umat yang berdiri di luar ditempatkan dibawah atap daun lontar dengan tiang-tiang kayu.</li>
<li>Sentuhan khusus: di depan altar, ada beberapa patung Maria ukuran sedang. Ternyata patung-patung itu milik umat yang dimintakan berkat dalam misa itu. Pemberkatan ini mereka mintakan hampir tiap minggu. Patung Maria dan Yesus yang besar dibungkus dengan lembaran kain tais (istilah mereka kain laki-laki, karena biasa dipakai cowok)</li>
<li>Tata cara: Dalam komuni, mudah membedakan orang Timor asli dengan yang lama tinggal di Jawa: orang Timor menerima komuni langsung dimulut dan orang Jawa menerima komuni dengan tangan. Pada saat komuni, biasanya di Jawa cukup dengan satu -dua lagu pengiring umat sudah habis. Di sini, entah karena berdesakan atau memang umatnya banyak, selain lagu umat juga diajak berdoa (biasanya 3x Bapa kami dan 3x Salam Maria) untuk suatu ujub tertentu.</li>
</ul>
<p>Itu saja untuk Cerita dari Timor edisi ke 002.</p>
<p>Minggu depan aku akan ke Timor Lorosae (luar negeri &#8230;.), tunggu saja ceritaku tentang perjalanan itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-002/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita dari Timor 001</title>
		<link>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-001/</link>
		<comments>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-001/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2001 23:34:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Philip</dc:creator>
				<category><![CDATA[humanitarian worker]]></category>
		<category><![CDATA[jrs]]></category>
		<category><![CDATA[timor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phil.yusenda.or.id/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini kuposting via email kepada beberapa kawan sekitar 4 hari setelah mendarat di pulau Timor. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.
Halo kawan semua,
Saat ini aku ada di Kupang, ujung barat pulau Timor, propinsi NTT, masih Indonesia. Kota ini sangat asyik untuk mereka yang ingin belajar nyupir, karena kelokan-kelokan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Tulisan ini kuposting via email kepada beberapa kawan sekitar 4 hari setelah mendarat di pulau Timor. Tidak ada yang ku edit, hanya kuposting sesuai dengan tanggal pengiriman emailnya.</em></p>
<p>Halo kawan semua,</p>
<p>Saat ini aku ada di Kupang, ujung barat pulau Timor, propinsi NTT, masih Indonesia. Kota ini sangat asyik untuk mereka yang ingin belajar nyupir, karena kelokan-kelokan yang ada di daerah Batu saja kalah jauh di banding kondisi jalan <strong>di dalam</strong> kota Kupang: berbelok-belok tajam sambil naik turun.</p>
<p>Ngapain di sini? Tentu saja kerja dong, walaupun kadang aku bingung juga, definisi kerja itu apaan sich. Soalnya, LSM tempatku bekerja, <a href="http://www.jrs.or.id/wordpress">Jesuit Refugee Service (www.jesref.org)</a>, terutama yang di Indonesia, punya konsep berbeda soal kerja. Umumnya orang kerja mulai pagi sampai sore, trus sampai di rumah nyantai nggak mikir apa-apa (kecuali yang wartawan dan yang <em>workaholic</em>!). Tapidi sini, aku tinggal di sebuah komunitas. Ada sebuah rumah bersama yang menjadi pusat kegiatan dan pusat kehidupan. Mulai dari direktur nasional sampai supir tinggal di situ. Bekerja, makan, bercanda, nonton TV, semua melebur jadi satu. Seperti sekarang ini, aku baru menerjemahkan proposal kunjungan ke Timor Lorosae, tapi pada saat yang bersamaan aku juga mengetik surat ini.</p>
<p>Aku akan coba untuk mengirim secara konstan serial ini setiap minggu, tapi juga nggak janji, karena mulai minggu depan aku akan ditempatkan di Betun, yang saluran telpon aja susah, apalagi internet. See you all next week!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phil.yusenda.or.id/2001/humanitarian-worker/cerita-dari-timor-001/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
